Monday, 31 December 2012

Sedikit Pesan Untuk Akhir Tahun

Tahun 2012 ini adalah tahun yang cukup spesial buat saya. Bukan karena 21-12-12 tidak jadi kiamat dan saya masih jomblo, bukan, tapi karena tahun ini saya punya beberapa turning point dan beberapa pengalaman "first", yang pastinya bakal saya ingat terus untuk tahun-tahun ke depan. Seperti yang saya harapkan, banyak kejadian hebat buat saya di tahun ini, dan saya sangat bersyukur untuk itu. Nah karena sudah akhir tahun saya merasa harus menulis sesuatu. Tapi tidak hipster rasanya jika saya hanya menulis resolusi tahun 2013, itu sudah terlalu mainstream. Maka di tulisan ini saya akan menuliskan beberapa ucapan khusus untuk orang-orang yang buat saya spesial di tahun ini. Kenapa nggak saya ucapkan langsung? karena saya yakin pasti beberapa dari mereka hanya akan berkomentar "wah asu homo tenan kowe cah"..

Yang paling pertama, untuk Bapak.

Pak, aku benci karena Bapak memilih jalan untuk menyayangi aku dengan membuat aku benci ke Bapak. Tapi aku sayang Bapak.


Lalu, buat Angga.

Matur nuwun Ngga. Makasih karena malam itu udah mau datang ke KFC buat ndengerin masalahku, walaupun aku tau pasti kamu sakjane misuh-misuh karena harga makanan di KFC memperkosa dompetmu. Makasih juga untuk obrolan tentang kegalauan award dan segala macam shit yang hampir bikin aku hilang arah itu. Sori nek aku egois ndadekke kowe tempat sampah curhatanku secara sepihak, tapi yo piye aku nyaman karo kowe Ngga. Piye homo tenan ra iki. Aku cuma mau bilang terima kasih ke kamu, makasih karena sudah membantu mengembalikan aku ke track semula Ngga.


Buat kamu, yang sekarang menjadi stranger.

Hey, how are you?
Aku sudah lupa berapa lama tepatnya kita berpisah. Setahun lebih beberapa bulan mungkin, kamu tahulah aku ga pernah bisa ingat dengan tanggal haha
Kata orang, hanya jarak yang akan membuat orang menyadari betapa mereka saling merindu satu sama lain.
Jadi setelah kita dipisahkan jarak bernama waktu ini,
setelah kamu memutuskan untuk menjadi stranger,
apakah kita masih saling merindu?
Aku masih, terkadang. Toh bagaimanapun kita pernah sangat dekat, dan aku masih sendirian. Sesekali mengingat senyum dan wajahmu yang merona merah bukan dosa kan :p
Tapi kalau kenangan kita sudah berdebu dan usang buatmu, aku tidak keberatan. Aku selalu paham apa yang kamu pikirkan, walaupun aku tidak pernah mengatakannya.
Kalau hatimu sudah menjadi milik pria lain, aku cuma berharap bahwa keputusanku untuk mengorbankan semua ini bisa membuatmu belajar. Aku tidak berusaha merajut kembali jarak yang kamu buat di hari kita berbincang via telepon waktu itu, karena aku ingin kamu belajar untuk meredakan egomu. Maaf kalau selama kita bersama aku membuatmu harus membenciku, tapi memang ini caraku untuk menunjukkan bahwa waktu itu aku sangat menyayangi kamu. Aku cuma ingin kamu mempelajari sendiri tentang dirimu tanpa harus kudikte.
Anyway, terima kasih untuk jarak yang kamu buat. Ini membuatku menyadari bahwa kamu adalah salah satu memori terindah yang aku dapat dalam 22 tahun yang telah kulalui :)


Buat kamu, gadis pesimis-tidak seksi-tapi sangat menarik dari outback.

Selamat karena kamu sudah menjadi orang pertama yang.. ahem kamu tau lah.
Terima kasih karena sekarang aku akan selalu ingat supaya tidak bertindak bodoh lagi saat pdkt ke orang. Yo piye, jatuh cinta ki marai bodo je..


Buat Yogi,

Terima kasih sudah mengingatkan bahwa masih banyak yang belum tak pelajari. Terima kasih juga karena sudah mengingatkan bahwa berbagi tanpa pamrih adalah hal yang terpenting. Ah aku merasa koyo homo yog, asu og kowe.


Buat Abdi,

Matur nuwun di hari terakhir 2012 iki wis ngelingke aku, nek aku ki wis kudu mulai mlayu seko saiki. Semoga pulang dari kota yang sikak itu aku nggak berubah seperti anggapanmu. Ya mungkin sedikit, tur nek aku dadi melu-melu sikak banget tulung aku ditapuk yo.


Buat Mamat, Ari, Joss,

makasih karena sudah mau mengalah pada diriku yang egois ini. Akhirnya mimpi bisa pergi ke luar negeri kesampaian juga berkat kalian. Thanks team!

Yah itu saja, selamat tahun baru :)

Sunday, 2 December 2012

Kita Bersama Karena Menang

Beberapa hari yang lalu saya sedang galau akut. Maka saya pun mengontak Angga untuk ngobrol, dan hari Sabtu ini kami janjian untuk bertemu.
Sebenarnya saya hanya ingin menceritakan sebuah masalah pribadi ke Angga, walaupun malam ini saya sudah tidak terlalu peduli dengan masalah itu. Toh bercerita nggak akan jadi obat, pikir saya. Tapi seperti biasa, ngobrol dengan Angga selalu jadi waktu untuk bertukar pikiran, dan itu adalah obat untuk masalah lain yang tidak saya sangka akan saya temukan malam ini. Pada akhirnya kami ngobrol ngalor-ngidul, dan kami menemukan inti masalah yang saat ini sedang sama-sama kami hadapi.

Beberapa bulan belakangan ini saya merasa hampa. Ada yang hilang. Kosong. begitu juga Angga.
Setahun ini saya sedang gencar-gencarnya ikut berbagai kompetisi kreatif. Entah iklan, video, foto, apapun. Dan belum lama ini saya mengikuti tiga kompetisi nasional yang sangat-sangat ingin saya menangkan sejak setahun yang lalu. Sudah tahun terakhir, harus menang sebelum lulus, harus bisa seperti teman-teman saya yang sudah pernah tembus. Begitu pikir saya.
Dan nyatanya tidak ada satupun entry saya yang tembus.
Dalam hati saya merasa sedih. Bukan karena saya gagal mendapatkan award yang bergengsi ataupun hadiah yang besar. Lebih karena saya ingin seperti teman-teman dekat saya yang semuanya pernah memenangkan lomba ini. Saya mulai berpikir bahwa saya tidak cukup berbakat. Kemampuan saya tidak berkembang. Ada perasaan tidak puas yang muncul di hati saya. A void, that is.


Saya menceritakan keresahan saya kepada Angga. Dan Angga pun bercerita tentang nasehat senior saya, Awe, yang diberikan kepada dirinya.
"Sekitar sebulan yang lalu saya mendapat sebuah balasan twit yang cukup nyentil dari kakak kelas saya 'Awe' Ardi Wilda. Saat itu ceritanya saya sedang semangat gembar-gembor untuk membantu adek-adek Deadline untuk menang di kompetisi kreatif Pinasthika. Banyak yang saya lakukan mulai dari nulis status semangat dan motivasi di FB, sedikit ikut sharing-sharing, sampai khusus nulis di blog. Saya sangat ingin adek-adek kelas kami ini bisa ikut merasakan kemenangan seperti yang bisa saya raih dulu. Di tengah semangat saya itu si Awe ini ngetwit khusus untuk saya yang intinya "Kesuksesan di matamu belum tentu sama kayak kesuksesan yang orang lain pengen. Jangan dipaksain orang lain buat ngikut kamu. Jangan-jangan kamu ini post-power syndrom karena bukan masamu lagi...? "." -tulisan dari blog Angga


Selain itu, Angga juga bercerita tentang beberapa junior yang ingin mundur dari dunia iklan karena belum pernah atau lebih sering gagal memenangkan award. Mereka merasa tidak berbakat.

Benarkah tiga award yang saya kejar ini bukanlah sukses yang semu belaka?

Saya selalu percaya bahwa sukses itu selalu dimulai dari passion yang kuat dan keinginan untuk produktif. Begitu pula Angga. Itu juga merupakan salah satu ajaran dari bapak saya yang saya tidak pernah lupa. Makanya saya rajin mengajak junior-junior saya untuk tidak bermalas-malasan. Harus rajin berkarya. Senior-senior saya yang hebat dulu juga menjadi sumber inspirasi saya untuk selalu produktif dan punya passion yang kuat. Dan pada satu titik, saya dan teman-teman saya menemukan bahwa lomba dan award merupakan doping yang sangat kuat untuk menjadi produktif. Dan doping itu pula yang kami berikan kepada junior-junior kami, dengan harapan mereka bisa lebih bersemangat untuk berkarya.
But we went too far. We overstepped the boundaries.
Seperti semua obat lainnya, saat dipakai berlebihan obat tersebut hanya akan menjadi racun.
Hal inilah yang kami berdua sadari malam ini.
Award memang doping yang bermanfaat. Namun ia sangat adiktif. Dan efek negatifnya baru kami berdua sadari sekarang.
Kami sibuk mengejar capaian-capaian berupa piala yang berkilauan dengan warna emas, sampai kami berubah begitu jauh dibandingkan saat kami berada di titik awal dulu.

Kami lupa bahwa dulu, we did everything what we like, no matter what.
Kami melakukan itu atas dasar kebersamaan dan keinginan untuk bertindak bodoh. Kami suka melakukannya dan jika kami pada akhirnya senang, itu sudah cukup. Sekarang, rasa suka kami telah digulung habis oleh obsesi untuk mengangkat piala emas diatas panggung. Kami hanya berpikir award, award, award! Apapun yang tidak sesuai dengan selera juri kompetisi, berarti salah. Apapun yang tidak out of the box, salah. Hal inilah yang menghentikan kami untuk berkembang. Padahal stagnansi adalah musuh kreatifitas.

Award telah mengubah teman menjadi rival.
Saya memberi selamat tanpa keikhlasan, tidak seperti dulu saat menang-kalah bukanlah hal yang penting. Yang terpikirkan dalam kepala saya adalah keinginan untuk menjadi sama hebatnya dengan si pemenang award. Ini bukan lagi tentang bekerja sama dan saling mengisi kekurangan. Ini adalah ajang untuk unjuk gigi kemampuan masing-masing individu.

Award mengubah hubungan pertemanan saya menjadi hubungan antar kolega. Pertemanan menjadi dasar perhitungan untuk kemenangan. Tidak punya skill? Tidak perlu dimasukkan dalam tim karena akan menghambat kemenangan. Hubungan pertemanan hanya diikat seutas benang rapuh bernama "menang kompetisi".

Award tanpa disadari menciptakan jarak dengan teman-teman saya yang tidak pernah mengikuti kompetisi. Saya selalu enggan menceritakan pencapaian saya, selalu tidak lebih dari beberapa patah kata karena saya tahu selalu ada orang yang lebih hebat. Namun itu tidak menghentikan teman sepermainan menjadi minder karena merasa tidak sehebat saya. Kenalan-kenalan yang lain memandang diri saya sangat tinggi. Semua itu menciptakan jarak, sebuah hal yang sama sekali tidak pernah saya harapkan untuk terjadi.

Saya merasa menjadi serigala penyendiri. Berpindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain, namun pada akhirnya selalu keluar karena ada jarak dalam kelompok tersebut, entah mengapa. Saya akhirnya harus selalu bertarung sendirian.

Dan malam ini, setelah bertahun-tahun, untuk pertama kalinya saya menangis. Oke, not literally karena hormon kelaki-lakian saya menahan diri atau mungkin kantong air mata saya yang sudah kering, jadi pol-polannya mata saya cuma berkaca-kaca. 

Saya menyadari saya hampir kehilangan banyak hal yang penting.

Rasa cinta saya pada dunia kreatif yang tidak dibatasi apapun.
Tawa saat melakukan hal bodoh tanpa peduli apa-apa.
Kebersamaan.
Hal ini juga yang menurut saya dan Angga telah hilang dari komunitas-komunitas kreatif di kampus kami. PPC, Kine, DeADline.

Award telah membutakan saya sedemikian rupa. Dan saya sebagai senior telah menarik junior saya untuk ikut menapaki jalan yang sama dengan saya.
Saya terlalu sibuk mengajarkan tentang pentingnya pencapaian, bukannya proses.
Award tidak akan datang saat dikejar. Ia akan datang saat kita menikmati proses mencapainya.
Memenangkan award bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah sebuah nilai tambah. Pemanis untuk kebersamaan kita. Apa artinya segudang award kalau pada akhirnya kita tidak punya teman untuk tertawa atau bersandar?

Dan malam ini saya bersyukur karena semua ini belum terlambat.

Sunday, 26 August 2012

Belum Galau Belum Gaul

Mungkin karena sudah tua, sudah masanya bakal galau.

Sekarang saya semacam bingung.
Mau ngapain habis kuliah?

Deadline lulus semakin dekat.
Rasa-rasanya saya belum cukup melakukan banyak hal.
Belum cukup berguna untuk junior.
Belum cukup sangar untuk berdiri sejajar dengan teman sepermainan.
Belum cukup memuaskan untuk diri sendiri.
dan belum pernah nyentuh top 20 IGN's game list. damn.
Lulus, kerja, ngumpulin duit, nikah? hmm, pasti bisa. Cuma sepertinya terlalu membosankan.

It feels like stuck in a loop. Doing a same process over and over again.
Kalau kata Ijah, saya mungkin butuh petualangan baru.




Masih ada setahun kurang untuk bersiap-siap sebelum menjelajahi hutan belantara di luar sana.
I'll make it count.

Monday, 28 May 2012

Karena SES A B C Bukan Patokan

Belakangan ini saya merasa agak muak dengan keadaan di Indonesia.
Kita semakin rajin merutuki keadaan. Kita semakin cerewet dalam mengomentari kinerja pemerintah.

Saya muak dengan cara pandang menilai ketidak berdayaan masyarakat melalui SES (Socio Economic Status),  dimana masyarakat miskin itu pasti tidak berdaya, dan masyarakat kelas atas itu harus ikut menderita kalau masyarakat kelas bawah susah. Maaf saja, ini bukan komunisme.

Saya muak dengan para mahasiswa yang dengan gagah berani, merasa sebagai ratu adil bagi kaum miskin, melempari polisi anti huru-hara dengan batu, sembari sesekali merusak mobil entah-milik-siapa yang sedang sial terparkir di sebelah mereka.

Sesekali turunlah ke jalan sebagai rakyat biasa, dan kita akan melihat bahwa orang-orang yang kita anggap pantas untuk dibela itu kadang kala tidak pantas mendapatkannya. Sounds harsh? memang. Banyak dari mereka yang pantas untuk dibela dengan cara-cara diatas. Tapi banyak lagi yang tidak.

Banyak dari mereka yang cerewet. Diajari ini-itu tetap saja tidak mau berubah, ada saja alasannya.
Banyak dari mereka yang malas. Sudah tau punya masalah tapi kerjaannya hanya menunggu bantuan pemerintah.

Orang-orang kelas atas memang banyak yang merampok uang negara. Tapi berapa banyak yang jujur?
Haruskah usaha keras mereka dinegasikan saat mereka menuntut hak mereka, hanya karena mereka kaya?

Saya pribadi cukup tersinggung jika diberi argumen, "jelas saja kamu bisa ngomong begitu, kamu kan kelas menengah".

Tidak, ini bukan perkara SES. Ini perkara dimana kita semakin hari semakin cerewet merutuki keadaan, tapi makin malas melakukan perubahan.

Perubahan itu didapat bukan dari melempari kantor pemerintah dan membakarnya. Perubahan itu terjadi kalau kita berbuat sesuatu. Sesuatu yang bermanfaat, tentunya.
Tapi kalau masih tidak suka dengan kondisi Indonesia, cobalah (minimal cari tahu) Korea Utara atau Somalia. Dan mungkin kita akan sadar kita ini sudah terlalu cerewet menuntut.

*ditulis dibalik perlindungan layar komputer sembari makan indomie

Friday, 23 March 2012

The Origin of :3

Jadi kemarin teman saya Angga bercerita ke saya bahwa dia bertanya arti emoticon ":3" ke teman saya yang lain, Mamat. Entah apa motivasinya bertanya ke Mamat, padahal beliau adalah orang yang sangat sakit otaknya. Lalu Mamat memberi penjelasan pada Angga bahwa sebenarnya :3 itu adalah singkatan dari :3====D
Oh masih bingung itu emoticon apa? Itu adalah pesawat luar angkasa milik alien ras Ballchinian. Esoknya Mamat memposting penjelasan yang lebih terperinci di blognya, bisa dilihat disini.

Bagaimana dengan saya? Saat Angga bercerita pada saya, sayapun memberikan penjelasan lain yang tidak kalah ilmiahnya.

Berikut adalah arti dan asal muasal emoticon ":3" versi saya:

:O  o====3
:Co====3
:C===3
:C3
:3


Masih bingung juga? Itu adalah pesawat luar angkasa yang tengah masuk dan mendarat ke hangar stasiun luar angkasa.
Sekian dan terima kasih.

Tuesday, 28 February 2012

Lupa

Kemaren lupa mau posting ucapan selamat dari kak matahari. Ngising (berak) sih, tapi makasih yaa http://fantasimatahari.blogspot.com/2012/02/selama-yaaaaa.html

Thursday, 16 February 2012

bored

really bored. doodled this in corel. nite.

Tuesday, 7 February 2012

Friday, 3 February 2012

22, single, and awesome!

Wow, lama nggak nulis nih. So what :p

Kemarin saya baru saja menginjak umur baru. 22 tahun. Umur yang buat banyak orang cukup riskan, mungkin. Umur yang mengejar orang-orang untuk segera melaksanakan goal-goal mereka. Lulus, punya pacar, cari kerjaan, terus nikah, dan selanjutnya, dan selanjutnya. Semester kemarin satu teman seangkatan saya sudah lulus dan Februari nanti wisuda. Kuliah cuma 3,4 tahun men, bayangin! Tiba-tiba kampus penuh dengan anak-anak baru yang saya nggak kenal. Teman main mulai hilang satu-persatu. Banyak yang sudah memulai kesibukan mereka dengan sang kekasih baru-skripsi. Dan hei, tiba-tiba saja beberapa tahun lagi teman-teman saya akan mengirimkan undangan nikahan mereka sementara saya (mungkin) masih single. Waktu rasanya terbang..

Tapi saya ga terlalu peduli dengan semua itu. Ada dua alasan yang mendasari pikiran saya. Pertama, buat saya yang penting hidup itu fokus sama tujuan, bukan rencana. Kalau tujuan perjalanan kita ke Inggris, kita bisa milih naek pesawat, kapal, mobil, atau meroda kesana. Tapi kalau kita ribet mikirin rencana kita naik pesawat dan ternyata semua pilot tiba-tiba mogok terbang karena ada migrasi naga besar-besaran, bingung kan? Saat tau kalau teman-teman saya sudah memulai skripsi, pengen cepet lulus supaya bisa segera nikah, saya cuma bisa ngomong, "itu nggak segampang yang kamu pikirin". Lulus itu yang penting pasti, bukan cepet atau nggak. Saya pribadi sih nggak mau nambah-nambahin angka pengangguran di Indonesia setelah saya lulus. Makanya saya selalu meracuni pikiran junior-junior saya untuk tidak buru-buru lulus. Kumpulin pengalaman, koneksi, fame and glory sebanyak-banyaknya sebelum kamu lulus. Ibaratnya menyiapkan segala peralatan sebelum kamu masuk ke hutan, sendirian. Karena kenyataannya seperti itu, lulus kuliah dan masuk ke dunia nyata itu bagaikan masuk ke hutan. Kamu ga siap, kamu bakal ditelan sama hutan realitas kehidupan. True Story. Saya juga belum mau mikirin nikah, karena saya nggak mau asal nikah dengan orang yang tidak tepat karena sekedar sayang-banget-sama-dia atau takut dikejar umur. Jadian dan nikah itu perkara gampang, cocok itu yang sulit. I want to marry the right person. That's all. 

Alasan kedua adalah masih banyak hal yang harus saya capai. Selain berbagai life achievement saya, saya merasa perlu menjadi figur seperti Awe, senior saya, bagi junior-junior saya. Ada dua orang yang selalu saya kejar punggungnya, dan Awe adalah orang kedua dari daftar itu. Walaupun secara personal saya cuma sekedar teman sesekali-ngobrol dan mroyek buat Awe, tapi buat saya dia adalah figur senior ideal buat saya. Wajah pas-pasan kayak persilangan Jar-Jar Binks memakai kacamata Harry Potter, tapi otak encer, prestasi nendang, dan (pernah) punya pacar seorang gadis yang diidolakan berbagai angkatan. How cool is that? Tapi yang lebih keren dari Awe adalah dia selalu melibatkan orang-orang di sekitarnya untuk meraih sesuatu  (kecuali masalah lomba yang ada duitnya, mesti disimpen sendiri) dan memberi inspirasi buat mereka. Itulah figur senior ideal buat saya, yang pergi dengan meninggalkan kenangan oke dan inspirasi buat junior-juniornya, bukan sekedar lulus dan hilang begitu saja.
Orang kedua yang selalu saya kejar adalah orang yang sangat saya benci sekaligus sangat saya sayangi. Bapak saya sendiri. Beberapa hari yang lalu bapak memberi banyak ceramah hidup buat saya, dan seperti biasa saya selalu diam saja. Saya selalu benci bagian itu. Tapi kata David Granger "Sooner or later, every man looks in the mirror and sees his father." Ayah akan selalu memberi contoh buat anak laki-lakinya yang secara tidak sadar akan menciptakan jarak diantara mereka. Anak laki-laki itu memang dasarnya akan hidup dengan mengambil jarak dan membenci sang ayah. Semua ekspektasi yang bapak saya sampaikan selalu saya acuhkan, karena saya selalu ingin membuat beliau terkesan dengan cara saya sendiri. Saya masih belum pengen lulus karena masih ada banyak hal yang belum saya capai untuk dibuktikan ke bapak saya, dan akhirnya beberapa bulan ini saya menyadari kalau semua yang saya lakukan itu untuk membuat beliau terkesan. Dan saya semakin mirip seperti bapak saya. 

Umur 22 saya dimulai dengan cukup baik. Saya berhasil menangkap 2 pokemon legendaris, dapet 2 telur pokemon, dapet kerjaan dengan bayaran lumayan, ucapan selamat dan kejutan yang lumayan tai kuda dari teman-teman saya. Walaupun jomblo dan mantan terakhir saya lupa kalau saya ulang tahun (karma mungkin), toh itu bukan masalah besar. Senang rasanya mengetahui ilmu percintaan saya belum luntur hahaha
Dan... bagian terbaiknya adalah saya menyadari bahwa saya tidak perlu terburu-buru merencanakan dan membatasi rutinitas hidup saya dengan pekerjaan, bahkan pernikahan, karena saya punya banyak tujuan dan life achievement yang harus diraih sebelum saya hidup mapan. Petualangan masih panjang bung!

Wednesday, 16 November 2011

Saturday, 30 July 2011

tersiksa itu..
sebulan KKN nggak bisa dengerin playlist harian karena harddisk rusak.
saya butuh arctic monkeys, muse, coldplay, melbi, dan teman-teman yang lain T-T

Wednesday, 27 July 2011

Selamat-sekian-bulan!

"selamat 10 bulan sayang"

Tiba-tiba sebuah pesan pendek masuk ke hape saya. Tanpa pikir panjang saya hanya membalas "hore :D". Yang menerima sms saya di seberang sana pun langsung ngomel-ngomel ke saya, "kok cuma hore sih?", tanyanya dengan ketus.

Membaca sms tadi, Saya tiba-tiba teringat obrolan saya dengan seorang teman perempuan saya. Saya bercerita kalau saya tidak pernah mengucapkan selamat jadian sama sekali saat berpacaran, dan dengan shock dia pun berkomentar: "HAH? gila, kamu ga pernah ngucapin selamat jadian ke pacar? Wah cowok macem apa kamu, keterlaluan banget kamu cah!", dan saya pun hanya cengar-cengir kayak kuda yang lagi birahi. Saya dari dulu memang nggak pernah peduli dengan perayaan jadian-kesekian-bulan saat pacaran. Dari semua perempuan yang pernah dekat dengan saya, hanya satu yang saya ingat tanggal kapan kami jadian, itupun kadang-kadang lupa. Ingat pun karena terpaksa, soalnya kalau saya lupa dia bakalan ngambek hahaha

Saya memang bukan orang yang romantis, kalau perbandingannya sama cowok-cowok di drama Korea atau di serial tivi kabel Amerika. Cuek? bisa jadi. Saya tahu kalau perempuan suka mendapatkan perhatian tentang hal yang remeh macam ucapan tadi. Mereka bahkan cukup senang saat kita tahu apa merek parfum yang mereka pakai. Tapi buat saya merangkai kata-kata manis untuk seorang perempuan itu terlalu klise. Saya lebih suka tiba-tiba muncul di depan pintu kamarnya sambil membawakan barang yang paling dia benci, lalu membuat dia kesal dengan saya. Pacaran yang paling romantis itu akan terjadi setelah marahan atau salah satu kesal dengan pacarnya, lalu sang pacar menghibur kekasihnya yang kesal. Coba saja kalau nggak percaya.

Oke lupakan lanturan saya, kembali ke cerita utama.
Nah setelah menerima sms tadi, iseng-iseng saya kemudian chat dengan beberapa teman saya, menanyakan tentang perayaan bulanan mereka dengan pacarnya masing-masing. Kebanyakan dari mereka bilang itu sebagai bentuk perhatian, Some kind of sweet word, kalau kata adik angkatan saya Tirza. Buat Tirza, sekedar mengucapkan selamat-sekian-bulan itu sebagai bentuk perhatian yang kecil tapi sangat manis, atau "oenjoe" dalam bahasa gaul anak muda masa kini. Apalagi pacarnya terbilang cuek, jadi hal-hal kecil semacam itu menjadi sangat menyenangkan buat dia. Tirza juga menasehati saya untuk sesekali lebih memperhatikan hal-hal kecil semacam ini.

Kenapa saya sangat selo sekali sampai membahas hal ini? Alasan saya sederhana, Saya nggak pernah ngerti asal muasal ritual bulanan ini. Sebut saya sok tahu, saya tidak akan keberatan. Menurut saya, perayaan saat mengulang waktu seperti ini dilakukan untuk mengingatkan kita bahwa sejalan dengan waktu, sesuatu itu akan menjadi rapuh. Maka diperlukan semacam ritual untuk merayakan dan mengingat masa yang telah ditempuh sehingga yang rapuh tadi akan kembali menguat. Kalau perayaan ulang tahun, dirayakan dengan harapan bahwa seseorang akan jadi semakin dewasa dan semakin baik pribadinya, saat semakin sedikit sisa waktu hidup yang dia miliki. Kalau ulang tahun perkawinan, biasanya sebagai pengingat bahwa hubungan pernikahan seseorang saat makin panjang harus makin erat. Ulang tahun pernikahan pun normalnya dirayakan tiap 25 dan 50 tahun sekali, kalau selo dan punya duit. Bagaimana dengan pacaran? Mungkin para muda-mudi menjalani hal ini karena ingin terlihat romantis kayak pasangan suami istri, entahlah.

Merayakan setiap bulan, walaupun hanya sekedar dengan ucapan, memang manis. Dari awal saya sendiri tidak pernah keberatan dengan itu. Saya cuma nggak pernah peduli berapa bulan yang sudah saya lewati dengan pacar saya. Karena buat saya pribadi, selamat-sekian-bulan mengesankan ketakutan pada kerapuhan hubungan seseorang dengan pacarnya (pada dasarnya hubungan pacaran memang rapuh bukan?). Menjalaninya dengan santai dan mengalir buat saya lebih menyenangkan, tanpa perlu diingatkan sudah berapa lama kami menjalin hubungan. Buat saya, cukuplah 1 tahun sekali saja saya mengucapkan "selamat 1 tahun jadian sayang!".

Itupun kalau saya nggak lupa tanggalnya :p

Thursday, 21 July 2011

Tentang Ijah

Entah kenapa hari ini saya sedang pengen banget nulis. Padahal saya selalu bilang kalau saya nggak suka nulis, sampai milih konsentrasi kuliahpun milihnya yang nggak banyak nulis. Ya tetep nulis sih sebenarnya, walaupun nggak terlalu panjang lebar. Nah dari tadi siang saya memikirkan apa yang mau saya tulis, tapi nggak dapet ide juga. Tulisan sampah saya tentang KKN ternyata nggak memuaskan juga. Akhirnya setelah beberapa saat maen game fesbuk dan chatting dengan beberapa orang, saya memutuskan untuk menulis tentang teman saya. Sekali-sekali saya pengen nulis serius, karena biasanya saya nulis sesukanya saja. Jadi saya akan menulis tentang Ijah.

Ijah yang saya maksud bukan pembantu di rumah saya. Ini Ijah teman saya, seorang perempuan yang buat saya pribadi sangat unik. Kenapa saya menulis tentang teman saya? karena saya lagi kangen sama mereka (saya sekarang lagi KKN dan teman-teman sedang mencar-mencar). Mungkin tulisan ini akan ada sambungannya, kalo saya niat nulis lagi tentang teman saya yang lain haha


Itu tadi Ijah. Ijah adalah teman sekampus saya, walaupun berbeda konsentrasi kuliah. Ijah orangnya enak diajak ngobrol dan nggak ribet. Satu hal yang akan kamu ingat saat bertemu Ijah adalah: bau vanila. Ijah sendiri bilang dia suka banget sama vanila, sampai parfumnya juga bau vanila. Pernah saya pergi sama Ijah dan dia membonceng motor saya, badan saya jadi bau vanila. Saya dan teman-teman sekampus kalau mencium bau parfum vanila di suatu tempat, otomatis pasti akan ingat Ijah. Saya sendiri kayaknya nggak akan kaget kalau Ijah bilang dia sehari makan satu kilo buah vanila buat cemilan.

Hal lain yang saya suka dari Ijah adalah gayanya. Ijah menurut saya nggak mainstream, walaupun dia pake behel dan suka makan ciki sambil ngupil. Mungkin dia pake behel karena dia pernah ditonjok giginya sampe berantakan sama Ellyas Pical, tak tahulah kalau itu. Terlepas dari itu, saya suka gayanya dan penampilannya yang eksotis. Jadi Ijah kulitnya gelap, terus rambutnya bergelombang. Tapi yang saya sangat suka adalah Ijah tetap pede dengan penampilannya dan nggak berusaha memutihkan kulit sama ngelurusin rambut kayak cewek-cewek kebanyakan. I really like that part.

Satu hal lagi yang saya suka, Ijah bisa menulis dengan sangaaaaaaaaat manis. Membaca tulisan Ijah seakan-akan Ijah tengah bercerita empat mata dengan kita, walaupun tulisannya itu tentang dia dan pacarnya. Buat saya, orang yang tulisannya enak dibaca itu keren, dan di komunikasi Ijah itu keren kedua setelah Awe, senior saya. Coba saja mampir ke wordpressnya disini.

Ah Ijah habis KKN aku pengen menjelajah toilet sama kamu kayak obrolan singkat kita bulan lalu. Kapan kita jalan-jalan lagi? 

KKN = Kerjo Karo Nyambi

Katanya senior saya, bapak saya, ibu saya, kalo KKN itu kudu siap-siap sama kasus cinlok.
Ternyata yo ada benernya.
Aksi, strategi dan manuver mulai dilakukan oleh kawan-kawan saya untuk mendapatkan pujaan hati.
Ada yang gerilya, mengendap-endap, sampe serangan frontal.
A ngejar C, B ngejar C.
Yo selamat bersaing saja kawan.
Salam syuper!

Saturday, 9 July 2011

ceritane KKN

Sekarang saya lagi KKN, di daerah Gunung Kidul.
Gunung artinya gunung, Kidul artinya selatan. Jadi gunung di selatan jogja. Kalo gunung di dada artinya buah dada.
Disini dibilang desa nggak, kota juga nggak. Ada kandang sapi, tapi ada rental PS2 sama warnet.
Biar begitu, ya namanya orang pastinya masih ada juga yang ngeluh.
Pondokannya nggak keramikan lah, nggak ada tivi lah, masakan nggak enak lah, enak di rumah lah.
Lha ameh KKN po piknik?
KKN itu bekerja sama dengan masyarakat. Bagi-bagi ilmu dari mahasiswa kota yang merasa pinter-pinter untuk warga desa yang sederhana dan merasa tidak sepintar mahasiswa. Tapi jangan kaget kalo nanti warganya malah lebih pinter.
KKN itu bukan mencari pelayanan dari warga.
Jadi kalo situ lemah syahwat, mending ndak usah macak KKN di desa.
Mending KKN di daerah kota saja.
Daripada situ stress sendiri.

Dadah muach.

Thursday, 16 June 2011

Buat kamu

Aku sayang mona J

Wednesday, 15 June 2011

Saya suka (iklan) rokok ini!!


Sumpah ya, baru sekali ini saya benar-benar terpana ngeliat iklan rokok. Biasanya saya cukup cuek, sekreatif apapun iklan rokok itu. Paling-paling cuma sampe tataran, "oh wow!", tapi ya udah gitu doang.
But this ad, seriously, it gave me a shiver the first time i watched it.


Kalo ada yang ga ngerti maksudnya, mungkin itu akibat kalian kebanyakan makan MSG. Oke becanda :D

Jadi iklan ini bercerita tentang dua orang nerd. Keduanya sama-sama nggak pernah diperhatiin orang-orang disekitar mereka. Tapi saat keduanya bertemu, they found their match. Saat salah satunya pergi, yang ditinggalkan akhirnya menemukan apa yang selama ini dia cari. Walaupun seseorang yang spesial untuk kita telah pergi, tapi ia tidak akan benar-benar pergi. Ia akan meninggalkan sesuatu untuk kita. Membuat kita menemukan tujuan kita. Membuat kita menyadari, siapa diri kita sebenarnya.

oh iya, MEROKOK ITU NGGAK SEHAT.

Monday, 13 June 2011

Pocong tidak pernah setampan ini

Beberapa hari yang lalu, kami tengah shooting untuk lomba Goodyear Creativideo. Di satu sesi shooting tersebut, kami berkenalan dengan teman baru yang kemudian menjadi talent dalam video kami.


Malam itu, saat kami tengah mempersiapkan lokasi shooting di sebuah tambal ban di daerah Sekip. Tiba-tiba, muncullah sesosok makhluk yang terbungkus kafan putih. Makhluk itu dalam budaya pop indonesia kerap disebut sugus, poci, ataupun popo. Dalam ilmu biologi, makhluk ini adalah metamorfosa dari Homo Sapiens menjadi Homo Pocongicus.

Pada awalnya pocong tersebut muncul secara diam-diam di belakang teman kami, Bisma. Mungkin dia masih malu untuk berkenalan dengan kami. Atau mungkin sebenarnya pocong tadi menunggu kesempatan saat Bisma tidak sengaja nungging sehingga bisa langsung melakukan serangan kilat.
Foto ini saat diupload di FB sempat menimbulkan kehebohan di kalangan peneliti metafisika dan akademisi ilmu perdukunan dan alam gaib.

Kemudian kami berkenalan dengan si pocong. Pocong tadi bernama Ceng Coli.

Dia ternyata sangat ramah, wajahnya pun terhitung tampan untuk ukuran pocong. Kami lalu mengobrol tentang banyak hal dengan Ceng Coli. Ternyata dia adalah saudara dari Cong Culi, pocong yang beberapa tahun lalu sempat menjadi idola dan ikon dunia pop dan selebritas alam gaib di kalangan warga Yogyakarta. Cong Culi terkenal karena dia muncul di berbagai tempat dan minta diuculi (dilepaskan) tali pocongnya.
Bagaimana dengan Ceng Coli? Ternyata dia memiliki kisah yang berbeda. Saat masih menjadi manusia, Ceng Coli tengah coli di kamar mandi. Tiba-tiba dia terpeleset karena menggunakan terlalu banyak sabun, sehingga lantainya menjadi sangat licin. Kepala Ceng Coli masuk ke dalam WC yang masih ada sisa hajatnya dan belum disiram. Ceng Colipun kemudian tewas tenggelam di kamar mandi dan mati penasaran, karena colinya belum selesai. Sampai sekarang, Ceng Coli belum bisa beristirahat dengan tenang. Karena kami juga tidak dapat membantu Ceng Coli melewati halangan terakhirnya, Ceng Coli pun menjadi sedih. Kami pun menghiburnya dengan menjadikan Ceng Coli talent di video kami. Dia sangat senang, seperti yang terlihat di foto diatas.

Setelah shooting, kami pun berfoto bersama dengan Ceng Coli dan bapak-bapak pemilik tambal ban.

Akhirnya, kami pun berpamitan dengan Ceng Coli. Dia berpesan pada kami jika ada teman-teman lelaki kami, muda ataupun tua, mahasiswa maupun oom-oom, yang melihat Ceng Coli muncul di kamar mandi mereka, mereka tidak perlu takut. Ceng Coli hanya ingin dibantu melewati halangan terakhirnya untuk pergi ke nirwana. Ceng Coli sangat berharap dia akan segera menemukan orang yang "tepat", sehingga dapat membantunya untuk.. well, you know lah.
Ini adalah aksi dari Ceng Coli di video kami, bisa dilihat disini.

Wednesday, 8 June 2011

Orang miskin nggak selamanya miskin

Diskusi tadi siang di kelas tiba-tiba menampar benak saya.

Tadi siang, kelas kami tengah mendiskusikan tentang semacam strategi public relation. Kelompok yang presentasi di depan kelas berkata bahwa mereka akan membuat program beasiswa. Seorang teman saya kemudian bertanya, "apakah efektif program semacam itu? bagaimana kalo uangnya tidak dipakai sekolah? orang tidak mampu kan cenderung lebih memikirkan masalah perut?"
Mendengar pertanyaan tadi, saya jadi berpikir. Orang miskin nggak selamanya berpikir sekerdil itu. Mungkin teman saya itu tidak pernah bergaul dengan kalangan bawah, atau SES C dalam Kamus Besar Bahasa Gaul Periklanan. Atau mungkin itu yang jadi cara pandang kebanyakan orang sekarang?

Oke, memang tidak adil kalau melakukan generalisasi seperti itu. Tapi yaa.. itu yang sering saya lihat di sekitar saya. Ada seleb (lupa siapa, nggak terlalu terkenal) yang diwawancarai tentang kondisi ekonomi dan masyarakat di acara info-tai-nment di TV, yak sekali lagi di TV, berkata kalau orang kecil itu nggak butuh pendidikan tinggi. Mereka cuma perlu menggarap ladang, udah hepi. Lalu ada banyak orang, berkata bahwa masyarakat rural itu terlalu percaya dengan kearifan lokal, yang dianggapnya cuma omong kosong. Dalam diskusi kami di kelas periklanan, sering kali kami berasumsi sendiri bahwa masyarakat kelas bawah itu pola pikirnya sederhana, kurang berpendidikan, nggak bisa mikir rumit, dll.

Well, nyatanya nggak juga. Saya ingat ada banyak buruh yang bercerita ke saya, mereka nggak ingin anaknya jadi seperti orang tuanya yang bodoh dan miskin. Anak-anaknya harus sekolah setinggi mungkin, walaupun nanti harus berhutang sana-sini untuk biaya sekolah. Walaupun mereka tidak sekolah, mereka juga punya visi.
Seorang tukang tambal ban juga menyadarkannya kepada saya. Waktu itu, bapak tukang tambal ban yang sudah cukup tua itu kesulitan untuk melepas ban motor saya. Waktu saya berniat membantunya, tiba-tiba si bapak menyuruh saya mencari tukang tambal ban lain. Bapak tua itu tersinggung. Mungkin karena dia tidak suka dianggap lemah dan tidak berguna, padahal dia dibayar untuk pekerjaan itu.. Mereka juga punya harga diri.
Kadang kita sering merasa kita jauh lebih pintar dari mereka.
Sering kita menganggap kita tau yang paling baik buat mereka.
Well..
Sesekali cobalah ngobrol dengan orang kecil. Seringkali kita akan menemukan harta karun dalam pembicaraan kita. Harta yang bernama kebijaksanaan.

*okay, later folks. i need some sleep now

Saturday, 4 June 2011

Awali harimu dengan sensasi!

Saya kira pagi ini akan jadi hari yang biasa saja.
Gak taunya, ini adalah salah satu HARI TERNGISING dalam hidup saya.


Niat hati hari itu mau shooting.
apa daya tripod ketinggal di rumah.
Malas balik naek sepeda, saya memilih naek motor.
Semuanya berawal saat Angga memberikan kunci motornya ke saya.
Berlanjut dengan saya mencari-cari motornya di parkiran kampus.
Berhubung saya ndak hapal motornya Angga yang mana, saya smslah itu bocah.
Akibat balasan sms yang masuknya ke hape saya seabad kemudian. (kayaknya ini salah provider yang janjinya murah tapi murahan itu).
Saya memilih untuk gambling.
Semua lobang saya masukin. Lobang kunci tentunya.
Yang saya inget, motornya Angga itu honda supra yang nggak patek keurus. Naas nasibe ngono lah.
Daan.. mata saya tertumbuk pada satu supra butut yang diparkir di ujung barisan.
Jleb, masuklah si kunci ke kontaknya. Dan menyalalah si motor tersebut sodara-sodara!
Ngambil tripod, balik ke kampus.
Sepanjang perjalanan saya mbatin.
Iki motor mesakke banget, ra tau diruwat.
Lebih parah dari terakhir saya naek sama Angga.
Di tengah jalan, saya berpikir untuk iseng.
Motor kayak gini biasanya kunci kontaknya bisa dicabut pas posisi on.
Eits, bener deh :D
Ntar saya bilang sama Angga, "kuncimu jatuh di jalan!".
Tiba-tiba spion sang supra lepas. LEPAS DAN JATUH. NGISING PART 1.
Terpaksalah saya berhenti di tengah jalan dan memungut si spion yang malang.

Sampai di kampus, saya dicegat pak satpam.
Katanya ada yang lapor motornya hilang.
TERNYATA YANG SAYA NAIKI ITU BUKAN MOTORNYA ANGGA. NGISING PART 2.
Satu dialog terngising hari ini adalah:
Satpam: kamu kesini naek apa?
Saya: sepeda pak.
Satpam: ooh jadi kamu pengen pulang bawa motor, iya?
(Nek arep nyolong, mending aku nyolong ninja, CBR opo tiger paaaak -_________-
Njuk yo ngopo aku bar nyolong balik ning kampus meneh)

Setelah diinterogasi, akhirnya saya dilepas.
Kata Angga yang jadi saksi, "untung koe ra digebuki cah!"
Dan kami pun melenggang pergi. Saya dengan perasaan geli, dan Angga dengan perasaan malu. Mungkin rasa malu Angga disebabkan karena badannya besar tapi tititnya kecil.
Dan hari ini ditutup dengan 2 kalimat yang sangat NGISING.




Ini talent saya







Dan ini teman saya yang omongannya diakui jurusan komunikasi sebagai komunikator terngising 2008.


Pesan saya untuk mas-mas HI yang motornya nggak sengaja saya bawa:
Semoga besok motornya ganti Ninja 250.
Jadi saya ndak bakal malu kalo nanti salah mbawa motor situ lagi.

Sekian dan terimakasih untuk hari ini. Salam pipis, ngelap, en menggauli. emuach.